Monday, February 24, 2014

Sulitnya Meraih Cinta Kembali

Jatuh cinta itu sejuta rasanya.
Tidak ada siang, tidak ada malam… selalu ingin bersama.
Berdebar-debar, pernyataan rindu, kangen dan cinta datang silih berganti.
Tak ingin sedetikpun terlewati.
Semua tampak indah dimata.

Saat cinta menyatu… Cinta itu tumbuh.
Cinta itu kepercayaan penuh sepenuh-penuhnya saat semuanya menyatu.
Cinta itu makin berkembang dengan adanya anak-anak.
Cinta itu makin subur karena sepenuhnya dirasa dan dimiliki.
Terlebih jika usia cinta sudah melewati 17 tahun, seumur remaja yang sedang jatuh cinta.

Saat cinta tak terjaga… prahara menghadang. Haruskah "cinta baru" tumbuh?
Saat cinta lama tak terawat semua jadi berantakan. Cinta baru seperti jerawat.
Seperti duri-duri bermunculan.
Yang terjadi adalah kecemburuan, ketidakpercayaan, dan ketidakberdayaan yang sejatinya karena cinta yang telah mendalam, yang telah lama terjaga… harus diporakporandakan karena ketidakjujuran.

Semua berantakan… semua porak-poranda.
Cinta tak akan tumbuh tanpa kepercayaan.
Kepercayaan tak akan tumbuh hanya dalam satu malam.
Kepercayaan yang sudah hancur, tak akan berbentuk dalam ketulusan cinta.
Cemburu buta dan ketidakpercayaan akan jadi duri dalam hati selamanya….. bukan hanya dalam hitungan hari atau bulan atau tahun.

Harus disadari semua itu hanya karena "cinta baru" tumbuh walaupun sesaat…. Bak nila setitik merusak susu sebelanga dan tak akan bisa diminum kembali.

Meraih cinta baru…. jauhhh lebih mudah daripada meraih cinta lama kembali seperti dulu lagi.
Raihlah cinta lama sebagai cinta baru lagi….yang memiliki sejuta rasa, yang memiliki debar-debar setiap saat…. yang menjadikan kembali kepercayaan baru.
Jalan akan panjang… jalan akan berliku, seperti kembali muda… jadikan Jatuh Cinta itu Sejuta Rasanya sekalipun terhadap cinta yang lama, yang telah dihancurkan karena cinta baru sesaat.

Bandung, 24 Februari 2014


Labels: ,

Saturday, January 25, 2014

Takabur

Ya Allah….
Ternyata baru aku menyadari …
Aku takabur..

Aku takabur akan kekuatan cinta seseorang yang tak abadi.
Merasa mencintai selamanya.
Merasa memiliki cintanya yang besar sepanjang masa.
Merasa kuat dengan memiliki cintanya.
Merasa serba bisa dengan cintanya
Merasa mampu melakukan sesuatu dengan adanya cinta itu.
Merasa bangga dengan cinta itu.

Aku terlena ya Allah…
Terlena dengan nikmat cintanya.
Terlena dengan kekuatan cintanya.
Terlena dengan semua yang diberikan dengan cintanya.

Aku lupa ya Allah….
Cintanya hanyalah cinta seorang manusia.
Cinta yang tak akan luput dari dosa.
Cinta yang kuat hanyalah karena kehendakMu.
Cinta yang akan lemah dan lengah atas kehendakMu.
Cinta yang dapat padam atas siraman Mu.
Cinta yang tak abadi sepanjang masa.
Cinta yang dapat berpaling.

Ya Allah ampunilah ketakaburanku ini.
Hanya kepadaMu lah aku memohon ampunan.
Hanya kepadaMu lah aku dapat bersandar.
Hanya kepadaMu lah aku dapat kekuatan menghadapi ini.
Berikan aku kekuatanMu ya Allah.
Berikan aku kesabaranMu
Berikan aku cinta abadiMu ya Allah.
Berikan aku ketakwaan ini.

Hanya kepadaMu lah aku memanjatkan doa yang tak terputus.
Hanya kekuasaanMu lah yang menyatukan cinta kami selama ini.
Jika Engkau berkehendak Ya Allah… kuatkan kembali cinta kami yang terlena ini.
Satukan kami dalam cintaMu, dalam takdirMu, dalam kekuatanMu.
Jika Engkau berkehendak lain Ya Allah…. ampuni aku yang takabur akan cinta manusia ini.

Cahaya Hati by Opick (youtube)

Labels: , ,

Sunday, January 19, 2014

Runtuh

Banyak cerita dalam otak…
Banyak kata dalam benak…
Tapi sulit diungkapkan…

Hati ini sudah runtuh…
Badan ini luluh lantak…
Hasrat ini sudah kering…
Semangat ini mati…
Cita-cita itu hilang terbang jauh…

Badai di Hari Kemerdekaan itu menghancurkan segalanya.


Labels: ,

Friday, January 17, 2014

Badai di Hari Kemerdekaan

Hari ini sudah bebas tugas…
Tapi ternyata kebebasan itu tidak disambut bahagia…
Ada rahasia yang terpendam… dan akhirnya menjadi badai..

Ternyata dia tak ingat saat sakit…
Ternyata dia tak ingat saat tak bisa bergerak…
Semua bantuan dan ketulusan itu cuma dibalas dengan….. badai

==sakit hati==

Labels: ,

Wednesday, August 03, 2011

Sayang anak-anak


Aduhh.. kangen ngeblog.... Bulan-bulan terakhir ini kok sibuk aja. Punyeng memikirkan urusan "banyak anak". Anak sendiri sih satu di rumah, tapi "anak" di kampus sekarang menjadi banyakkkkk banget. Mulai tahun 2007 saat balik ke kampus yang mahasiswanya sekitar 80 orang... setelah tahun 2010 ini, setelah 4 tahun, meningkat jumlahnya jadi 159 orang. Jadi "anak-anak di kampus" makin banyak.

Sekarang jadi mikir...dan harusnya kata pepatah "banyak anak banyak rejeki" ini harus dikaji ulang. Bener deh.... Kalau saya bilang sih... banyak anak , banyak masalah...hehehe... Ini terbukti dengan "anak-anak" saya di kampus. Dengan bertambahnya jumlah mahasiswa yang kenaikannya sangat-sangat signifikan dibanding jumlah dosennya, maka banyak masalah mulai muncul. Mulai dari hal paling sederhana... yaitu faktor bagi-bagi perhatian.

Hehehe.. kalau anak saya, si cantik itu, ingin selalu diperhatikan di rumah, maka "anak-anak" saya yang lain di kampus, yang 159 orang itupun ingin selalu diperhatikan di kampus. Muncul masalah antara kepentingan anak di rumah yang 1 orang dan yang di kampus , 159 orang. Kadang memerlukan waktu dan perhatian yang bersamaan kegiatannya. Dan jujurnya... saya selalu merasa si Bilah lebih dewasa daripada "anak-anak" di kampus hahaha.... Ini benar lho. Walaupun ya kadang-kadang muncul juga manjanya si cantik.... "Ibu, masak anak sendiri 1 orang aja dikalahkan ama anak orang lain?" Kalimat itu muncul kalau si Bilah cemburu karena saya terlalu memperhatikan kegiatan di kampus. Hahaha.. kadang saya ketawa sendiri, apa seperti itu ya?

Kenyataannya iya. Ternyata memang saya terlalu memperhatikan semua anak-anak yang di kampus. Kadang berpikir ah cuekin aja... anak orang ini... hehehe.. tapi ternyata saya tidak bisa berpikir dan bertindak seperti itu. Kenyataannya..perhatian, empati, dan sayang itu muncul ke "anak-anak" di kampus.

Masalah lain yang muncul dengan banyak anak, kita perlu peralatan yang banyak. Ya kalau anak dirumah, kita perlu mainan yang banyak biar tidak berebut. Kalau di kampus... peralatan dan kegiatan harus banyak. Kalau di rumah dengan banyak anggota keluarga, maka perlu makanan yang cukup banyak, nah kalau banyak anak di kampus... ya makin banyak juga keperluan sehari-harinya. Padahal gaji kita terbatas.... padahal dana di kampus terbatas. Jadi harus pinter-pinter mikir gimana menghidupi anak- anak kita, kalau di kampus tuh... gimana pinter-pinter mikir cari kerjasama atau dana tambahan untuk kegiatan mereka.

Jadi walaupun di rumah cuma 1 orang anak, tapi saya punya 159 orang anak lagi yang selalu menemani hari-hari saya, mengisi pikiran, dan selalu perlu diperhatikan juga. Walaupun banyak anak, banyak masalah.... tetap saja toh harus memikirkan 160 orang anak-anak tersayang. Akhirnya memang harus selalu dinikmati ....walaupun banyak anak hehehe....

Selamat menjalankan ibadah Ramadhan tahun 2011

Foto : Dik Lutfi sedang main di Pelabuhan Ratu.

Labels: ,

Sunday, January 23, 2011

Awal Semester (lagi)....

Besok adalah awal semester lagi... Harusnya semangat baru ya buat memberi yang terbaik, gak tahu kenapa malam ini justru krasa malass banget buat nyiapin segalanya.

Capek..capek..capek...
Mungkin karena banyak banget yang diurusin sampai akhirnya lelah batin. Hehehe... ntah kenapa ini??? Sepertinya tidak ada semangat memulai awal semester baru lagi.
Bosan??? Ntahlah.... Tapi sekarang "anak-anak" makin banyak, gak boleh sampai bosan dong ibunya hehe..

Sepertinya harus menyemangati diri sendiri nih.... :D


Ahh... mungkin dengan melihat foto musim panas lalu di Hamburg ini, bisa memberi semangat. Semangat ...buat balik lagi. Hahahaha... Kapan ya? Insya Allah....tahun ini, tahun depan, tahun yang akan datang.... Selalu berharap...sebagai penyemangat buat belajar dan mengajar lagi.

Labels: , ,

Wednesday, March 11, 2009

Komunikasi

Ketika komunikasi mahasiswa dan dosen terhambat, maka faktor yang terlihat kurang penting dapat menjadi hambatan utama.

Komunikasi

Ya... cara orang berkomunikasi tentunya sangat penting. Mulai dari bagaimana mengemukakan pendapat, berdiskusi dan sebagainya. Namun seringnya dalam penerimaan mahasiswa baru faktor cara berkomunikasi ini kurang diperhatikan. Selalu yang diutamakan adalah nilai, mulai dari IP, nilai TOEFL atau nilai TPA.

Khusus untuk mahasiswa S3 satu lagi hal yang penting diperhatikan adalah cara berkomunikasi dengan pembimbing. Berkomunikasi disini bisa dalam hal berdiskusi yang baik, diskusi apa saja baik materi pelajaran dan penelitian, maupun berbincangan kehidupan sehari-hari.

Saya masih ingat saat bulan-bulan pertama di Hamburg dulu. Stress? Pernah. Kenapa? Saat itu yang saya sadari... saya pernah beberapa hari tidak bicara ke satu orang pun. Udah pernah mengalami seperti itu? Wahh ternyata stress juga tidak mengucap satu katapun dalam beberapa hari. Kenapa bisa seperti itu? Saat itu di Hamburg saya belum mempunyai teman Indonesia. Kalau toh ada belum terlalu dekat, komunikasi jarang. Sementara dengan orang Jerman yang ada di sekitar? Wahh saya tidak berani berkomunikasi.

Melihat keadaan itu... untungnya Peter mengerti benar. Dia mengajak saya ke GKSS cari data dan sekaligus jalan-jalan melihat sekeliling Hamburg. Dalam perjalanan itu saya ingat benar, dia memberi semacam wejangan, bahwa komunikasi itu penting. "Kita beda budaya, orang Jerman hampir tidak pernah memulai pembicaraan kepada orang asing. Sementara kamu orang asing merasa canggung memulai pembicaraan. Kalau seperti itu terus, kamu yang tinggal di negara asing ini pasti akan merasa terkucilkan, akhirnya kamu sendiri yang bisa rugi. Padahal maksud kami tidak seperti itu. Jadi mulailah buka pembicaraan.... ntah hanya say hello..., schönes Wetter ja (cuaca cerah ya), atau pembicaraan yang kecil-kecil." Bener Peter. Sepertinya saya memang stress gara-gara tidak bicara ke satu orang pun.

Sepertinya sejak itu saya mulai sering membuka pembicaraan kepada siapa saja yang sering saya temui. Di asrama... saat ketemu teman-teman lain di dapur atau meja makan, di institut tempat saya bekerja, atau setiap ada kesempatan ngobrol,... usahakan untuk membuka pembicaraan, dan tentunya paling sering berkunjung dan berbincang-bincang dengan Peter dan teman lainnya segrup di Institut. Ah ya.. bener kata Peter, akhirnya saya lebih tenang, gak stress lagi, dan.... makin banyak lho orang yang mau mengajak saya ngobrol dan berdiskusi.

Kenapa ingat hal seperti itu? Kemarin sempat ketemu salah seorang mahasiswa S3. Sepertinya dia mulai stress dengan proposal yang harus disusunnya, sementara sang pembimbing sebagai orang-orang penting, tentu saja sibuk. Sebenernya sang promotor sering menyarankan dia untuk datang dan berdiskusi, tapi sepertinya sang mahasiswa yang bingung cara berkomunikasi. Akhirnya mahasiswa jarang datang karena bingung apa yang mau didiskusikan sementara dia panik dengan ketidaksiapannya menyiapkan materi proposal. Dilain pihak sang promotor merasa sudah memberikan arahan topik A, namun tidak menyadari bahwa si mahasiswa tidak menguasainya. Mungkin menyadari..., tapi karena mahasiswa tersebut tidak pernah bilang dengan jujur apa yang dia mau, dia bisa, dan dia tidak bisa..., maka ya... dianggap bisa atau minimal mau mengerjakannya. Hmmmm....

Termasuk juga mahasiswa bimbingan saya. Sepertinya saat ini ada dua orang yang sedang mengalami hal ini. Saya dah berusaha seperti Peter dulu (hihihi) mengajaknya ngobrol-ngobrol, tapi tampaknya belum berhasil untuk berkomunikasi dengan mereka.

Hmmm ... jadi ingat iklan ini... "Mari ngteh.... mari bicara". Gak bawa-bawa merek tehnya..., jadi bukan iklan dong ya hehehe... Tapi cara tersebut sudah lama saya alami dengan teman-teman segrup di IfM dulu lho. Setiap pagi diusahakan minum teh bersama sekitar 20-30 menit. Tidak ada tujuan khusus membicarakan sesuatu.., tapi mereka beranggapan dengan ngteh bersama... ikatan kekeluargaan dapat lebih baik, dan tentunya... cara berkomunikasi satu dan lainnya menjadi akrab.

Mau coba....? "Mari ngteh.... mari bicara"


Labels:

Friday, May 18, 2007

Vatertag... Hari Bapak

Kemarin, 17 Mei 2007 adalah Vatertag... gantian kalau beberapa hari sebelumnya adalah Muttertag (Hari Ibu), maka kemarin adalah Hari Ayah.. Hari Bapak... Apak..gitu kalau Bilah manggil bapaknya atau saya manggil bapak saya. Nah... biar adil kali ini saya juga nulis tentang peran seorang bapak di rumah, tentunya diluar pekerjaan sebagai pencari nafkah keluarga ya.

Setelah menikah, saya dan mas Agus ini sering banget pisahan hihihi... masalahnya... dia ini kerja di Jakarta, sementara saya di Bandung aja. Dulu banyak orang sering nanya, kenapa kami mau pisahan... atau banyak juga yang menawarkan saya pindah ke Jakarta atau dia pindah ke Bandung. Gak tahu ya.. kami santai aja menjalani hari-hari itu. Jumat malam sampai Senin subuh mas Agus di Bandung. Sementara hari-hari kerja dia ada di Jakarta.

Dengan waktu yang sedikit itu kami berusaha mengatur waktu. Waktu Bilah umur 2 tahun, bangun pagi di hari Sabtu... pernah Bilah bertanya... 'Itu siapa sih bu yang tidur di bawah?' hehehe... Percaya gak.. anak seumur gitu tidak ingat ayahnya jika tidak hadir setiap hari :D Pengenalan dan penjelasan bisa diterima Bilah dalam waktu hitungan jam.

Juga ada cerita teman saya, seorang bapak dengan 2 anak. Anak pertamanya berumur 7 thn, sementara saat anak ke-2 nya lahir saat dia sudah di Jerman, dan baru berkunjung ke rumahnya di Indonesia saat anak ke-2nya berumur 2 tahun. Pertama kali tiba dirumah si kakak yang mengenal ayahnya tentu saja langsung memeluk dan berteriak kegirangan. Lain dengan si adik... si adik sempat ragu dan bertanya ke kakaknya...'Mas, siapa sih Om itu?' hehehe.. Ayahnya tak dikenali, sehingga dipanggil Om. Pengenalan kembali setelah 2 tahun tentunya memerlukan waktu yang lebih lama untuk si anak merasa yakin bahwa itu adalah ayahnya. Bahkan beberapa hari sang ayah selalu dipanggil Om oleh anak ke-2nya.

Saya pernah menulis tentang kenangan masa kecil. Kalau dilihat video klip itu... mengingatkan saya bahwa anak tumbuh dan banyak belajar tentang sesuatu dari sang ayah. Mulai dari belajar naik sepeda, saya waktu kecil belajar mengenal alam, jalan-jalan,.. suka kemping,... mengenal tanaman,... berenang ... semua karena bapak saya. Hmm... juga semangat sekolah.. dan sekolah... :D

Bilah sekarang?? Mulai dari suka iseng kalau dipotret... seperti foto mereka berdua itu, sampai keahliannya memadukan warna, menggambar, terampil bikin ini itu, bagus cara motret dan kutak katik foto, bahkan sekarang si Bilah mulai suka otak-atik komputer... semua juga karena Apaknya ini :D Sampai-sampai mereka berantemnya tuh juga sama deh cara godainnya... sampai ribut... sampai ibunya yang jadi sebel. Kalau rumah kami ramai ribut.. bukan saya ama mas Agus yang berantem, tapi si Bilah dan bapaknya nih... masing-masing gak mau ngalah. Heran kan? hehehehe...

---

Saya jadi berpikiran... ternyata memang seorang anak memerlukan kehadiran kedua orang tuanya. Apa ya jadinya kalau tidak ada Bapak yang membesarkan anak-anaknya? Sayangnya saya kurang bisa mengungkapkan dalam kata-kata. Tapi yang pasti saya melihat banyak hal dalam kehidupan yang anak-anak pelajari dari sang bapak.

Bagaimana yang jadi single parent? Hmm... tidak semuanya juga gagal mendidik anaknya sendiri. Boleh dibilang mbak Rini itu berhasil mendidik Ninok tanpa sang Ayah di rumah mereka. Mereka hidup berdua, tapi semua kegiatan Ninok bisa ter-cover ama ibunya. Saya amati... caranya sang ibu mempertahankan faktor psikologis bahwa si A adalah ayahnya dan menjelaskan ke Ninok mengapa mereka berpisah, tentang variasinya pilihan hidup, dan Ninok tetap menghormati sang ayah. Bagaimana belajar hal-hal yang biasa dilakukan dengan ayah seperti cerita si Bilah? Mbak Rini melakukannya dengan mendekatkan si anak ke keluarga teman-temannya yang utuh, kadang dititipkan 1-2 hari untuk memperkenalkan bahagianya keluarga sempurna yang terdiri dari ayah dan ibu, agar si anak tetap tahu bahwa itulah sebaik-baiknya keluarga.

---

Bagaimana orang Jerman menyambut Vatertag kemarin? Ini sedikit cerita hasil jalan-jalan kemarin di Hamburg saat berlayar ke Finkenwerde menjemput Bilah dirumah Dinda.

Seorang bapak mengajak anak perempuannya umur 6 tahun bermain kartu di atas kapal. Sebentar kemudian sang anak meminta es krim, sementara sang bapak mengeluarkan termos kecil berisi kopi. Sang anak meminta agar dia boleh menuangkan termos berisi kopi panas ke cangkir bapaknya dan sang bapak mengijinkan. Tuangan pertama sudah bisa diduga... kopi tumpah walaupun tak banyak. Sang bapak dengan santainya membersihkan tumpahan kopi di meja, meminum kopi dicangkirnya dan meminta sang anak menuangkannya lagi. Tuangan ketiga sang anak berhasil menuangkan kopi ke cangkir tanpa tumpah... deuhhh begitu bahagianya si anak dan sang bapak pun tersenyum. Hal sepele yang saya pelajari dari mereka berdua.

Cerita lainnya... pria muda Jerman banyak mengisi acara Vatertag dengan minum-minum bahkan sampai mabok. Hmm... kalau acara Muttertag ramai-ramai orang shopping... maka kalau Vatertag kenapa diisi dengan mabok-mabok ya?

Na ja...

Andere Länder andere Sitten...(= setiap bangsa punya kebiasaan yang berbeda) begitu kata lagu yang sering dinyanyikan si Bilah di sekolah.

---

Di rumah kami sendiri... tidak ada perayaan khusus baik pada peringatan Muttertag atau pun Vatertag... Semua hari seperti hari-hari lainnya... Biasa saja.

Ada yang memperingati Vatertag kemarin? Jangan-jangan emang banyak yang gak tahu ya..hihi... atau berbeda tanggal di negara lain?

Labels: ,

Sunday, May 13, 2007

Ibu

Sudah jadi seorang ibu? Belum...? Minimal pasti (pernah) punya Ibu :D

Ternyata menjadi seorang ibu itu sulit. Pernah saya tulis pekerjaan sebagai ibu rumah tangga jauh lebih sulit dari pada program yang harus saya pikirin pakai otak, lebih diplomatis daripada bernegosiasi dalam bisnis, dan juga lebih berat daripada tukang angkut sampah. Ketiga perumpamaan itu sudah pernah saya lakukan, jadi benar-benar bisa menilai perbandingannya :D

---


Matematika itu sulit ya... saat pekerjaan yang harus saya geluti berhubungan dengan persamaan hidrodinamika 3 dimensi dengan 5 variabel bebas yang harus diselesaikan dengan persamaan numerik, dimana kestabilan diskretisasi numeriknya juga berperanan. Belum lagi mengenai syarat batas, asimilasi data, dan... menuliskan jurnal yang paling pusing... Nah terkesan rumet kan? Tapi lama kelamaan kita jadi terbiasa dan mudah.

Ternyata menjadi seorang ibu rumah tangga itu lebih punyeng lho awalnya. Apalagi buat orang seperti saya yang dulu waktu kecilnya tidak pernah... bener nih.. tidak pernah memasak. Saat pertama di Jerman dan saya harus memasak sendiri, bingung.. seberapa sih garamnya ya? diapakan dulu ya? duhh ... banyak perhitungan-perhitungan yang ternyata tidak dapat diterapkan di dapur :D

"Mbak.. masak sih uang beasiswa segitu abis belum sebulan?"
"Abis Mut... paling mung 3 minggu-an"
"Coba-coba diitung lagi toh kalau mau ngeluarin uang..."
"Gak iso ngono Mut. Bayang no karo Ninok mlaku-mlaku... trus Ninok pengin mangan opo jajan. Gak tego gak nukoke sing Ninok pengin"

Itu pembicaraan saya dan mbak Rini saat tahun 2001-an. Saat itu saya masih tinggal sendiri di Hamburg. Dengan beasiswa yang sama mbak Rini hidup berdua bersama Ninok anaknya semata wayang. Ntah kenapa selalu per bulan beasiswanya habis. Dia selalu bilang kalau ada anak itu lain dan kadang tidak bisa diperhitungkan. Hmm...

Tahun 2003 Bilah datang ke Hamburg. Walaupun tidak semua keinginan anak terpenuhi, saya juga tidak sampai kekurangan uang beasiswa, tapi saya hitung-hitung memang banyak faktor lain setelah ada anak. Mulai dari kebutuhannya, kegiatannya..., acara jalan-jalan... semuanya berubah total. Ada salah satu sisi baiknya tinggal di Jerman dengan adanya asuransi kesehatan, kalau tiba-tiba sakit kami tidak pusing kepalang ke dokter atau beli obat, apalagi anak-anak semua akan terbayar oleh asuransi. Gimana kalau di Indonesia? :D


Yang penting buat dicatat kalau dah punya anak... kadang perhitungan keuangan bisa tiba-tiba meleset.

---

Bernegosiasi soal proyek atau pekerjaan bisa kita perhitungkan sebelumnya, berapa untung berapa ruginya. Kalau pekerjaan jauh apa saja yang harus kita keluarkan. Tambahan gaji bisa kita negosiasikan dengan boss. Kalau proyek... tawaran ini itu bisa kita negosiasi dengan si empunya pekerjaan. Kalau pekerjaan kita sedang banyak dan kita perlu waktu untuk keluarga, bisa kita negosiasi juga dengan teman sejawat. Intinya mudah diatur asal sosialisasi kita baik.

Gimana dengan anak?

Mungkin saya salah satu ibu yang tidak melewati detail dengan melihat sendiri perkembangan anak sendiri antara umur 3-5 tahun, karena waktu itu saya sudah di Jerman. Namun dari cerita-cerita Ibu, saya mengikuti perkembangan Bilah. Bilah sudah bisa ini, bisa itu... dia nakal begini..begitu... semuanya cuma laporan dari Ibu saya via telepon. Saya baru menyadari ternyata semua anak hampir sama kelakuan dan perkembangannya dari membaca blog teman-teman yang anak-anaknya lebih kecil dari Bilah.

Saat Bilah sampai di Hamburg.... duhh satu yang saya terlewatkan yaitu hubungan emosional. Saya tahu dia sudah bisa ini, bisa itu,... tapi saat dia diminta untuk itu dia berbuat seperti tak pernah bisa. Kadang sifat pemalunya mengalahkan segalanya dan itu membuat pusing dengan apa yang harus dilakukan. Bernegosiasi dengan anak dengan mendekatkan hubungan emosional yang pernah terputus ternyata tidak cuma perlu memeras otak, tapi juga perasaan, emosi, dan lainnya... Sambil berjalan... sambil saya mencoba kembali mengingat saya sebagai seorang anak dulu, mengingat bagaimana ibu saya mengatasi kenakalan atau keunikan yang saya punyai atau saya lakukan, mengingat emosi saya saat saya masih kanak-kanak.

Berdiplomasi dengan anak ternyata memerlukan kenangan kita sebagai anak, baik kenangan fisik, jiwa, emosi, maupun perasaan kita sebagai anak-anak.

---

Saat mendapat pekerjaan cleaning service di perusahaan percetakan, pekerjaan yang terberat adalah buang sampah kertas. Kadang bisa sampai 2-3 karung plastik besar berisi majalah-majalah yang beratttt... selama 1-2minggu. Itu pun buangnya bisa saya cicil sedikit demi sedikit sesuai kekuatan saat itu.

Sebagai Ibu apakah seberat itu?
Kalau buang sampah bisa dicicil sesuai kemampuan, tapi pekerjaan sebagai ibu pasti tidak bisa dicicil baik secara kuantitas, kualitas, maupun waktu.

Sejak bayi Bilah punya kebiasaan main di malam hari. Hmm bukan malam, tepatnya dini hari mulai dari jam 11 malam hingga jam 4-5 pagi, sehabis adzan subuh baru dia tertidur. Mungkin jam tidurnya salah. Pernah dicoba diusahakan tidak tidur siang hari agar malamnya bisa tidur enak, tapi ternyata tetap saja dia bangun dini hari. Akibatnya setiap hari jam tidur saya juga sehabis subuh sampai jam 9-10 pagi. Karena itu waktu Bilah kecil, saya tidak pernah mau mengajar pagi hari...hihi.. jam tidur.

Pernah satu hari dia sakit agak parah. Seharian hanya mau digendongan saya, tidak mau duduk, tidak mau tidur, maunya digendong sambil jalan-jalan. Walaupun berat tapi tetap saya lakukan, bahkan sempat dalam kantuk, hampir aja kami jatuh di tangga karena dia ingin naik ke lantai atas dan turun lagi ke bawah.

Banyak hal dan banyak pekerjaan... yang seberat apapun, sesulit apapun, semalas apapun harus tetap dilakukan, bahkan kadang tak bisa ditunda nanti-nanti.

---

Saya jadi teringat ibu saya. Dulu pernah saya cerita di modblog, sayangnya tulisan itu hilang dengan hilangnya modblog. Kapan-kapan ditulis lagi deh. Seberat apapun yang dilakukan dan dipikirkan ibu saya, ternyata ibu tidak pernah mengeluh. Bahkan hingga akhir hayatnya beliau masih mengasuh Bilah. Satu keinginannya yang tidak terpenuhi sepanjang hidupnya dan sering dikatakan ke saya adalah jalan-jalan ke Bali :( dan itu saya ingat terus.

Saya yakin banyak cerita ibu-ibu lain yang lebih berat harus ditanggung, yang harus dipikirkan, dan dilakukan. Tapi saya yakin juga pada akhirnya ibu-ibu tidak merasakan seperti yang saya tulis di atas, bahkan tidak terpikirkan bahwa seberat itu pekerjaannya. Bisa jadi tidak merasa bahwa ada hari ibu :D

Sampai saat ini saya salut dan kagum pada satu pekerjaan yaitu sebagai Ibu Rumah Tangga. Sampai saat ini pun saya merasa belum menjadi ibu yang baik, masih belajar terus menjadi ibu mengikuti perkembangan anaknya. Satu hal yang saya pelajari dari Ibu saya adalah:

Waktu sekolah, kuliah, dan bekerja bisa berakhir, tapi waktu menjadi seorang ibu tidak pernah berakhir, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, bertahun-tahun sampai akhir hayat.

Happy Mother's Day


Ein schönen Muttertag!!! Wünsch ich dir!!!
(ditulis Bilah di atas kartu bergambar hati warna merah yang diselipkan diantara dua bunga merah dan putih hadiah hari ini untuk ibunya)

Labels: , , ,

Thursday, March 29, 2007

Rambut Panjang

Model : Ophi & Bilah
Lokasi : Rumah Veddel, 24 Maret 2007
Foto by MB-nya Ophi

Memasuki usia 8 tahun, sepertinya anak-anak mulai menginginkan rambut panjang. Hmm... ntah memang teori atau bukan, kurang tahu juga sih hehehe.. Pengalaman dulu waktu saya kecil juga pengin punya rambut panjang dan memang punya rambut panjang sejak kelas 2 sampai dengan kelas 6 SD. Bahkan sempat ngetop deh di kampung... di Jombang sana :P bukan karena saya-nya cantik, soalnya jaman tahun '80-an itu Chicha Kuswoyo (masih ada yang ingat gak ya?) ngetop jadi penyanyi cilik dengan rambut panjang :D

Begitulah setiap pagi ibu saya harus mengepang rambut saya yang panjang dan tebal. Untungnya lurus, sehingga gak pakai kusut. Itu pun hampir tiap pagi ibu mengomel karena menghabiskan waktu juga sebelum berangkat ke sekolah. Mana rumah saya jauh dari sekolah, perlu waktu hampir 30 menit dengan mobil. Ibu bilang, dengan rambut panjang saya justru tidak konsentrasi belajar, kepala jadi berat, belum lagi perawatan yang ekstra. Walaupun sering mengomel, tapi ibu juga yang dulu suka merawat rambut saya pakai santan, atau lidah buaya, katanya agar rambut indah. Memang indah itu perlu repot mungkin ya hihi.. Begitulah... akhirnya masuk kelas 1 SMP saya potong pendek aja rambut yang sudah panjang lebih dari sepinggang.

Ternyata ada betulnya juga kata-kata ibu... sekali lagi ini bukan teori ya... pengalaman aja... setelah rambut dipotong pendek, mulai SMP prestasi di sekolah meningkat, bahkan sempat dapat juara ke-3 satu SMP itu yang pararel kelasnya sampai 10 kelas. Walaupun cuma juara ke-3, banyak guru-guru SD saya sampai heran dan tidak percaya kalau saya bisa juara di SMP yang ngetop di kota Jombang itu hihi... Nah, tapi kenyataan hehe.. dan saya bukan orang yang ngetop yang dikenal guru saat itu. Tapi ternyata hal ini tidak terjadi ama si cantik, karena prestasinya tetap aja nomor 1 di sekolahnya... hehehe.. emang pinter bawaan kali ya, beda ama ibunya hihiihi...

Kembali ke cerita rambut panjang dan Bilah, sejak kelas 2 SD Bilah pun ingin punya rambut panjang. Saya jadi ingat masa kecil hehe... jadi awalnya saya perbolehkan dia memeliharanya. Ternyata.... muncul masalah... kutu rambut. Gak kebayang awalnya bahwa ada kutu rambut menyerang di Jerman. Tapi nyata... awal sampai akhir musim panas adalah masanya banyak kutu-kutuan termasuk kutu rambut. Tanpa ada alasan lagi.. saya suruh si cantik potong rambut sampai pendek agar mudah membersihkannya. Obat kutu yang di jual di Jerman ternyata kurang ampuh ... akhirnya saya minta beberapa orang yang datang ke Hamburg buat bawa Peditox khusus dari Indonesia dan... ampuhhh... :D

Namun ternyata ada faktor psikologis lain yang terjadi ama si cantik ini. Malam setelah rambutnya dipotong... nangissss... sejadi-jadinya. Marah ... ama ibunya, protes kenapa rambutnya dipotong. Walaupun udah saya bilang karena kutuan, dia tetap aja marah. Hmm... ya memang rasanya gak adil ya.. ( Ingat diri sendiri yang pengin rambut panjang :P )

Setelah 9 tahun, Bilah mulai memelihara rambutnya lagi. Tetap dengan ancaman kalau kena kutu rambut... harus potong lagi hehe... Setahun berlalu melalui musim panas 2006 tanpa kutu.... bahkan persediaan peditox masih ada utuh 3 botol hahaha... Foto diatas saat kunjungan Ophi kemarin, rambutnya udah se dada. Timbul masalah lain lagi.... ketombe. Rambutnya panjang dan tebal (duhh kok sama...), bedanya rambutnya ikal, membuat susah menanganinya. Keramasnya perlu di salon.. tapi kalau ke salon terus ya.. ya..ya.. hehehe.. Selain itu... kusut .. aduh.. pokoknya ribut deh tiap pagi kalau mau ke sekolah ( diprotes ama sang bapak, ibunya gak boleh marah karena dulu juga suka ngributin ibunya sebelum berangkat ke sekolah hehehehe... *kena lagi deh* )

Hari Selasa lalu, sepulang check up ke dokter mata, tiba-tiba dia minta ke salon, merapikan rambutnya agar mudah dirawat dan gak kusut. Lho? Sempat heran, tapi ya saya senang aja. Mau masuk ke salon, dia pegang tangan saya, ragu-ragu. Ya udah kalau ragu, gak usah aja... kata saya. Tapi Bilah masih pengin ke salon. Masuklah kami ke salon di Grindelhof... Saya bilang," Ibu gak mau bilang apa-apa ke tukang potongnya ya. Bilah tentukan sendiri seberapa mau dipotong". Pengalaman dulu dia nangis menyesali rambutnya dipotong malah marah ke saya. Dikeramasin... potong... saya cuma perhatikan dari jauh dari tempat menunggu di salon itu.

Sambil jalan pulang... dia melihat rambutnya di kaca toko yang kami lalui. "Kok pendek ya?" dia mulai gelisah. "Ah.. cuma 2cm lah dipotong, gak kelihatan berubah", kata saya.. Nah tapi ternyata psikologisnya besar juga ke Bilah sendiri. Sampai di halte Veddel, dia minta pakai kaputze (penutup kepala di jaket)...lhaa.. gak hujan gak angin gak mendung, masak pakai kaputze, kan kayak apa sih... , mulai deh ibunya marah hehe.. Dari halte ke rumah dia lari, gak mau ketemu teman yang dikenalnya. Ck..ck.. kata saya, "Siapa sih yang perhatiin?". Dan... malamnya terulang lagi.. si cantik ini menangisss.... karena menyesali rambutnya dipotong hehehe... Heran kan?

Pagi-pagi mau berangkat sekolah, Nathalie datang menjemput. Mulai Bilah gelisah karena rambutnya baru. Malu-malu, dengan senyum-senyum dia menemui Nathalie, eh... si Nathalie gak komentar apa-apa hahaha.. saya bilang "Tuh kan GR, gak kelihatan juga berubah".

Sorenya, saya nanya.. apa ada dikelas yang berkomentar rambutnya dipotong? Jawabnya... "Ternyata gak ada yang tahu kalau rambut Bilah dipotong ya, Bu"

Hehehehe.. begitulah si cantik ini kalau mengalami sesuatu yang berubah pada diri dan lingkungannya. Mungkin juga mulai memasuki masa puber?? Duhh... kok cepat waktu berlalu ya...?

Labels: , ,

Friday, March 23, 2007

Apa ya?

Apa ya namanya? Bosan? Capek? Stress?
Ntah apa ya? Ntah kenapa juga ya? Belakangan ini saya perhatikan diri sendiri (hihihi...) agak lama posting sesuatu disini. Padahal tahu sendiri dulu kayaknya kena blogonesia hahaha...

Bosan atau Stress
? Sepertinya gak juga, soalnya masih posting beberapa foto di multiply, update di lautanku, masih nglanjutin nulis paper, juga proposal baru lagi. Capek? Hihi.. kalau capek gak posting-posting yang lain juga ya. Malahan sempat ngikutin kutik-kutik lagu Breaking Free yang diolah ama si dia ini dari film ke mp3 trus ke wma. Juga sempat motong foto di atas itu...yang untuk header. Foto header itu lautan di daerah Poso, hasil peninggalan (hihi...) proyek yang berakhir bulan Januari lalu. Indah kan daerah Poso? Sayang kok daerah 'keributan' ya.

Balik lagi... trus saya kenapa ya?
Hmmm... sepertinya sih kehabisan ide buat posting disini hehehehe... Sebenarnya banyak cerita tentang si cantik, tapi kok ya diposting.. ntar dia protes lagi pakai kata-kata 'das ist meine privat Leben' hehehe... Jadi ya cukup buat cerita-cerita di rumah aja. Mau posting tentang wetter... kok ya bosen juga ya. Bosan gak ya yang baca?

Hmm.. gak tahu ah apa namanya... yang jelas pendek aja ah postingannya yang disini :D
Oh ya, saya posting beberapa foto baru... ada foto-foto hasil jalan-jalannya si Cantik ke Hamburger Schulmuseum dan Fernsehturm Hamburg yang dipotret dari beberapa sudut pandang kalau jalan ke Institut.

Labels:

Sunday, March 04, 2007

Yang Tidak Biasa untuk Ketidakbiasaan

Nah... ngasih judulnya iseng banget ya... Ada beberapa cerita yang terinspirasi dari kebiasaan Bilah melihat ketidakbiasaan ibunya.

Minggu, 4 Maret 2007

Sering setiap Minggu pagi, saya membuat sarapan berupa schoetel makaroni ala Veddel hehehe.. ala diri sendiri maksudnya. Biasanya saya panggang di pinggan kaca tahan panas berbentuk kotak. Sekali makan... Bilah bisa habis 2-3 potong.

Pagi ini... karena si pinggan tahan panas itu masih belum dicuci, bekas dipakai kemarin, maka saya masukkan adonan makaroni ke cetakan kue dari bahan silikon yang berbentuk bulat. Matang... saya sajikan diatas piring bulat.

Bilah : "Kok kayak kue sih bu? Biasanya kan pakai yang kotak."
Ibu : "Iya pinggannya sedang kotor. Rasanya sama kok." (cuek... kan sama bahannya)
Bilah makan cuma sepotong.
Ibu : "Kok cuma makan sepotong sayang? Gak enak gitu?"
Bilah : "Sama sih.. tapi kok gak pakai yang kotak sih?"

Hahaha... jadi ternyata penampilan yang biasanya kotak diganti bulat membuat keinginan makan menjadi berkurang.

Sabtu, pengajian TQ

Sabtu minggu lalu saya mengajar ke TQ di mesjid. Pakaian yang saya kenakan hari itu baju panjang warna hijau... hmmm pas dengan kerudung warna hijau deh. Sepulang dari mesjid, masih dengan baju yang sama, saya jalan-jalan ke toko bersama si Bilah. Bilah ingin membelikan kado buat Avina. Setelah mengambil barang yang dia anggap tepat untuk kado, si Bilah bingung mencari saya, walaupn akhirnya ketemu juga.

Dalam perjalanan pulang ke rumah.
Bilah : "Tadi Bilah cari-cari ibu kok susah banget."
Ibu : "Ibu segendut ini kok gak ngliat sih" hehehe... jawabannya juga seenaknya aja :D
Bilah : "Bukan gitu... kenapa sih hari ini ibu pakai kerudung hijau?"
Ibu : "Hah...? kenapa emang? Kan bagus cocok ama bajunya."
Bilah : "Iya senada... tapi gak biasanya. Ibu kan sukanya cuma pakai kerudung putih atau krem. Kenapa tiba-tiba pakai warna hijau hari ini? Si Dinda aja tadi bilang gini bu... warum ist deine Mama grun heute? (mbak Nug.... si Dinda protes nih hihi...)

Hahaha.... jadi Bilah nih benar-benar sudah terbiasa ama kebiasaan dan gak suka kalau diganti menjadi sesuatu yang tidak biasa.

Tapi ingat-ingat... ada kejadian 2001 di institut, si sekretaris professor juga 'heran' melihat ketidakbiasaan saya menggunakan kerudung warna lain. Saat itu musim semi, saya ke institut menggunakan baju bunga-bunga warna pink tua dan kerudung sengaja saya sesuaikan warna pink. Si sekretaris sempat heran, karena saya hampir selalu pakai kerudung putih atau krem, dan bertanya... "Apa di Indonesia orang menggunakan kerudung sesuai musim?". Hah? saya sempat bengong apa maksudnya ya. Ternyata beliau selalu melihat selama musim dingin... saya pakai kerudung warna putih... seperti salju, dan saat musim bunga.... pakai baju bunga-bunga warna pink dan kerudung warna pink cerah. Hehehehe....

Hahaha... ternyata susah memang kalau sudah terbiasa untuk tidak melihat ketidakbiasaan. Jadi... ya sudahlah daripada anaknya susah mencari ibunya, ... sekarang dibiasakan terus pakai kerudung warna putih atau krem aja.


Labels: