Thursday, October 19, 2006

Cerita Menjelang Lebaran (2)

Cerita yang bernuansa sedih ini bukan untuk mengajak teman-teman bersedih menjelang lebaran tahun ini. Komentar bundanya Calya ini ternyata kebahagiaan dan kesedihan itu tipis bedanya dan lagu 'Alhamdulillah' di blog ini, membuat saya sadar pentingnya ikhlas. Insya Allah kami memang sudah mengikhlaskannya dan Insya Allah beliaupun sudah tenang disisiNya. Amin.

Biar gak sedih... kita cerita yang lain yuk... (hihi.. kayak ngajak anak-anak biar gak sedih)

Mudik

Tradisi mudik menjelang lebaran saya lakukan saat saya kuliah di Bandung dan ortu masih di Jombang, Jawa Timur. Kesan saya... Mudik itu menyengsarakan. Yang gak setuju boleh protes hehehe...

Setiap tahun menjelang lebaran, saya harus ngantri pagi-pagi setelah subuh ke stasiun Bandung. Antriannya panjangggggg... banget untuk beli tiket KA Mutiara. Karena mahasiswa ya... belinya yang kelas bisnis doang bisanya. Alhamdulillah juga kok. Biasanya saya berusaha beli untuk kepulangan 4-5 hari sebelum lebaran. Namun pernah juga dapat H-2 sehingga H-1 baru sampai di Jombang.

Sengsaranya lagi... (hehehe.. sengsara) seringnya keretanya terlambat, terlambat beberapa jam bahkan sampai setengah hari. Mungkin karena banyaknya kereta tambahan menjelang lebaran ya. Namun bagi penumpang tentu saja membosankan dan menjengkelkan. Di kereta penuh sesak, bahkan melangkah pun sulit karena orang-orang yang tak dapat tempat duduk selonjoran di antara tengah barisan bangku, kadang kipas angin macet mengnambah panas. Suasana panas kadang membuat orang gampang emosi, ada yang berantem dan sebagainya. Belum lagi orang suka menyerobot tempat yang sudah dipesan dan tidak mau tahu karena merasa udah duluan. Huh.. sebel yang kayak gini. Ada senangnya juga buat mahasiswa..., kadang ketemu sesama mahasiswa yang belum kenal, nambah temen, apalagi kalau mahasiswanya cakep enak diajak ngobrol hehehe.... (walaupun gak punya pengalaman kayak cerita-cerita Anita sih hihi..)

Kata sengsara belum selesai hanya menjelang mudik. Saat kembalipun tak kalah sengsaranya. Kadang ortu bisa memesankan karcis balik sehingga kami dapat tempat duduk. Permasalahannya ... saat naik kereta gerbong sudah penuh sejak dari Surabaya, sehingga kami bersusah payah mencapai tempat duduk kami (saya biasa pulang ber3 bersama kakak ke-2 dan Yati yang menemani saya selama kuliah di Bandung). Kadang melangkahi orang duduk, orang tidur, bahkan sempat menginjak kaki orang tanpa disengaja. Duhh...buru-buru minta maaf tentunya.

Begitulah sengsaranya mudik jaman kuliah dan kenapa saya sebut mudik itu menyengsarakan hehe.. Sampai suatu tahun (lupa tahun berapa ya) kami yang mengusulkan agar bapak dan ibu aja yang ke Bandung buat lebaran. Hehehe.. alasannya diterima karena keluarga besar bapak saya ada di Jawa Barat, trus.. perjalanan dengan kereta dari arah Surabaya ke Bandung relatif lebih sepi daripada sebaliknya (dulu lho... ntah jaman sekarang ya).

Setelah di Jerman, saya melihat disini pun orang-orang mudik menjelang Natal. Di asrama-asrama saat natal adalah saat sepi karena para mahasiswa pulang ke rumah masing-masing. Pernah akhir tahun 2001, saya melakukan perjalanan naik kereta malam ke München sendiri, di kereta itu penuh sesak seperti kalau di Indonesia menjelang lebaran seperti cerita saya di atas. Orang-orang juga duduk di gang-gang diantara kursi, di depan pintu, di depan kamar mandi. Kotak dan koper pun menghalangi langkah saya masuk ke dalam kereta. Bedanya.... menjelang natal tuh disini musim dingin, jadi orang dingin juga, jarang ada yang marah-marah hehe... Orang-orangnya juga santun mempersilahkan saya masuk menempati tempat duduk yang memang sudah saya pesan sebelumnya. Tak ada serobot menyerobot tempat :D Dari cerita teman-teman asrama dulu, mereka paling bahagia saat natal berkumpul keluarga dan saling memberi hadiah kasih sayang. Karenanya mereka selalu bela-belain mudik saat natal.

Hmmm... saya jadi teringat ama diri sendiri. Walaupun mudik itu menyengsarakan, namun toh dulu saya juga selalu melakukannya setiap tahun :D Jadi salah juga kalau disebut Mudik itu cuma Tradisi orang Indonesia. Saya yakin di setiap negara manapun ada tradisi mudik, sesuai dengan perayaan hari besar agama dan keyakinan masing-masing. Bersyukur buat teman-teman yang sempat, mampu, dan diberi waktu bisa mudik. Gunakan waktu sebaik-baiknya bersama keluarga ya... Yang gak mudik (kayak kami...) ya pergunakan kesempatan yang ada bersilahturahmi dengan teman-teman sesama muslim >> yang ini kok kesannya minta diundang ya... hehehe... Kali aja Ophi dan Ine mengundang kami ke Bonn dan Düsseldorf? hihi.. atau kalian aja yang ke Hamburg? Boleh lho...

Selama 7x lebaran di Jerman (Insya Allah dengan tahun ini)... hmm.. saya cuma pernah sekali berlebaran di Bandung tahun 2002 itu, tak terasa berlebarannya karena suasana duka. Tahun-tahun lainnya saya selalu berlebaran di Hamburg. Walaupun tak seramai suasana lebaran di Indonesia, tapi saya merasa tenang berlebaran di Hamburg. Ditambah sekarang ada keluarga disini, "lebaran di Hamburg itu menyenangkan dan menenangkan" (komentar sang bapak). Mau tahu kenapa berkomentar seperti itu? Di cerita menjelang lebaran selanjutnya ya...


5 Comments:

At 7:26 PM, Anonymous Anonymous said...

Mbak Putri ,
Aku bisa mengerti kesedihannya , aku juga pernah mengalami kejadian yg hampir serupa (kebetulan terjadinya pas bulan puasa ) , cuman penyebabya aja lain .....sama mbak aku nggak pernah bisa melupakan itu sampai sekarang .....padahal kejadiannya udah 9 thn lalu.......yg tabah aja Mbak..dan jangan sedih , sering anak-anak ikut merasakan kesedihan kita.

 
At 9:33 PM, Blogger The_Fathins said...

Baca-baca cerita mbak Putri, jadi inget mama-papa di rumah dan pengen cepet-cepet pulang ke Indo.
Apa daya apa daya...:)
Jadinya Insya Allah kami mau lebaran di Heidelberg aja (di Trier mah sepi pi pi pi).

 
At 4:43 AM, Blogger Yulia said...

Put, mungkin taun depan ada kesempatan kumpul2x dgn keluarga di Indo saat lebaran :) Sekarang di Jerman aja dulu ngumpul sama temen2x sepengajian :)

Daku ucapin Selamat hari raya idul fitri, mohon di maapin segala kesalahan gw (lebih di kata2x ya) yg di sengaja maupun nggak di sengaja.
Salam hormat bwt suami dan Bilah ya :)

 
At 9:39 AM, Blogger ira i said...

Mbak Putri...selamat lebaran 1 syawal 1427 H. Mohon maaf lahir & batin :)

 
At 10:29 AM, Anonymous Anonymous said...

Selamat Hari Raya Idul Fitri dari Indo.. Mohon Maaf Lahir Batin.. Semoga semua amal ibadah kita di bulan suci ramadhan diterima Allah SWT & beroleh ridho-Nya & semoga setelah kembali fitri kita bisa menjadi manusia yg lebih baik. Amin

 

Post a Comment

<< Home